Karena Birokrasi… Bukanlah Mempersulit, tapi Melayani Bukan Menghalangi, tapi Memfasilitasi Bukan Mencari Uang Pribadi, tapi Mencari Ridho Ilahi

Mengapa Kita Harus Berdakwah?


[1] Dakwah merupakan jalan hidup Rasul dan pengikutnya

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Katakanlah, Inilah jalanku; aku menyeru kepada Allah di atas landasan ilmu yang nyata, inilah jalanku dan orang-orang yang mengikutiku…” (Qs. Yusuf: 108)
Berdasarkan ayat yang mulia ini Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah mengambil sebuah pelajaran yang amat berharga, yaitu: Dakwah ila Allah (mengajak manusia untuk mentauhidkan Allah) merupakan jalan orang yang mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana yang beliau tuliskan di dalam Kitab Tauhid bab Ad-Du’a ila syahadati an la ilaha illallah (Ibthal At-Tandid, hal. 44).

[2] Dakwah merupakan karakter orang-orang yang muflih (beruntung)

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Hendaknya ada di antara kalian segolongan orang yang mendakwahkan kepada kebaikan, memerintahkan yang ma’ruf, melarang yang mungkar. Mereka itulah sebenarnya orang-orang yang beruntung.” (Qs. Ali-’Imran: 104)

Ibnu Katsir rahimahullah menyebutkan riwayat dari Abu Ja’far Al-Baqir setelah membaca ayat “Hendaknya ada di antara kalian segolongan orang yang mendakwahkan kepada kebaikan” maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Yang dimaksud kebaikan itu adalah mengikuti Al-Qur’an dan Sunnah-ku.” (HR. Ibnu Mardawaih) (Tafsir Al-Qur’an Al-’Azhim, jilid 2 hal. 66)

Dari Hudzaifah bin Al-Yaman radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya! Benar-benar kalian harus memerintahkan yang ma’ruf dan melarang dari yang mungkar, atau Allah akan mengirimkan untuk kalian hukuman dari sisi-Nya kemudian kalian pun berdoa kepada-Nya namun permohonan kalian tak lagi dikabulkan.” (HR. Ahmad, dinilai hasan Al-Albani dalam Sahih Al-Jami’ hadits no. 7070. Lihat Tafsir Al-Qur’an Al-’Azhim, jilid 2 hal. 66)

[3] Dakwah merupakan ciri umat yang terbaik

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Kalian adalah umat terbaik yang dikeluarkan bagi umat manusia, kalian perintahkan yang ma’ruf dan kalian larang yang mungkar, dan kalian pun beriman kepada Allah…” (Qs. Ali-’Imran: 110)

Ibnu Katsir mengatakan, “Pendapat yang benar, ayat ini umum mencakup segenap umat (Islam) di setiap jaman sesuai dengan kedudukan dan kondisi mereka masing-masing. Sedangkan kurun terbaik di antara mereka semua adalah masa diutusnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian generasi sesudahnya, lantas generasi yang berikutnya.” (Tafsir Al-Qur’an Al-’Azhim, jilid 2 hal. 68)

[4] Dakwah merupakan sikap hidup orang yang beriman

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Orang-orang yang beriman lelaki dan perempuan, sebahagian mereka adalah penolong bagi sebagian yang lain. Mereka memerintahkan yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar,…” (Qs. At-Taubah: 71)

Inilah sikap hidup orang yang beriman, berseberangan dengan sikap hidup orang-orang munafiq yang justru memerintahkan yang mungkar dan melarang dari yang ma’ruf. Allah ta’ala menceritakan hal ini dalam firman-Nya (yang artinya), “Orang-orang munafiq lelaki dan perempuan, sebahagian mereka merupakan penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka memerintahkan yang mungkar dan melarang yang ma’ruf…” (Qs. At-Taubah: 67)

[5] Meninggalkan dakwah akan membawa petaka

Allah ta’ala berfirman tentang kedurhakaan orang-orang kafir Bani Isra’il (yang artinya), “Telah dilaknati orang-orang kafir dari kalangan Bani Isra’il melalui lisan Dawud dan Isa putra Maryam. Hal itu dikarenakan kemaksiatan mereka dan perbuatan mereka yang selalu melampaui batas. Mereka tidak melarang kemungkaran yang dilakukan oleh sebagian di antara mereka, amat buruk perbuatan yang mereka lakukan itu.” (Qs. Al-Ma’idah: 78-79)

Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan, “Tindakan mereka itu (mendiamkan kemungkaran) menunjukkan bahwa mereka meremehkan perintah Allah, dan kemaksiatan mereka anggap sebagai perkara yang sepele. Seandainya di dalam diri mereka terdapat pengagungan terhadap Rabb mereka niscaya mereka akan merasa cemburu karena larangan-larangan Allah dilanggar dan mereka pasti akan marah karena mengikuti kemurkaan-Nya…” (Taisir Al-Karim Ar-Rahman, hal. 241)

Di antara dampak mendiamkan kemungkaran adalah kemungkaran tersebut semakin menjadi-jadi dan bertambah merajalela. Syaikh As-Sa’di telah memaparkan akibat buruk ini, “Sesungguhnya hal itu (mendiamkan kemungkaran) menyebabkan para pelaku kemaksiatan dan kefasikan menjadi semakin lancang dalam memperbanyak perbuatan kemaksiatan tatkala perbuatan mereka tidak dicegah oleh orang lain, sehingga keburukannya semakin menjadi-jadi. Musibah diniyah dan duniawiyah yang timbul pun semakin besar karenanya. Hal itu membuat mereka (pelaku maksiat) memiliki kekuatan dan ketenaran. Kemudian yang terjadi setelah itu adalah semakin lemahnya daya yang dimiliki oleh ahlul khair (orang baik-baik) dalam melawan ahlusy syarr (orang-orang jelek), sampai-sampai suatu keadaan di mana mereka tidak sanggup lagi mengingkari apa yang dahulu pernah mereka ingkari.” (Taisir Al-Karim Ar-Rahman, hal. 241)

[6] Orang yang berdakwah adalah yang akan mendapatkan pertolongan Allah

Allah berfirman (yang artinya), “Dan sungguh Allah benar-benar akan menolong orang yang membela (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa. Mereka itu adalah orang-orang yang apabila kami berikan keteguhan di atas muka bumi ini, mereka mendirikan shalat, menunaikan zakat, memerintahkan yang ma’ruf dan melarang dari yang mungkar. Dan milik Allah lah akhir dari segala urusan.” (Qs. Al-Hajj: 40-41)

Ayat yang mulia ini juga menunjukkan bahwa barangsiapa yang mengaku membela agama Allah namun tidak memiliki ciri-ciri seperti yang disebutkan (mendirikan shalat, menunaikan zakat, memerintahkan yang ma’ruf dan melarang yang mungkar) maka dia adalah pendusta (lihat Taisir Al-Karim Ar-Rahman, hal. 540).

[7] Dakwah, bakti anak kepada sang bapak

Allah ta’ala mengisahkan nasihat indah dari seorang bapak teladan yaitu Luqman kepada anaknya. Luqman mengatakan (yang artinya), “Hai anakku, dirikanlah shalat, perintahkanlah yang ma’ruf dan cegahlah dari yang mungkar, dan bersabarlah atas musibah yang menimpamu. Sesungguhnya hal itu termasuk perkara yang diwajibkan (oleh Allah).” (Qs. Luqman: 17)

Allah juga menceritakan dakwah Nabi Ibrahim kepada bapaknya. Allah berfirman (yang artinya), “Ceritakanlah (hai Muhammad) kisah Ibrahim yang terdapat di dalam Al-Kitab (Al-Qur’an). Sesungguhnya dia adalah seorang yang jujur lagi seorang nabi. Ingatlah ketika dia berkata kepada bapaknya; Wahai ayahku. Mengapa engkau menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat dan tidak bisa mencukupi dirimu sama sekali? Wahai ayahku. Sesungguhnya telah datang kepadaku sebahagian ilmu yang tidak datang kepadamu, maka ikutilah aku niscaya akan kutunjukkan kepadamu jalan yang lurus. Wahai ayahku. Janganlah menyembah syaitan, sesungguhnya syaitan itu selalu durhaka kepada Dzat Yang Maha Penyayang.” (Qs. Maryam: 41-44)

[8] Dakwah, alasan bagi hamba di hadapan Rabbnya

Allah berfirman (yang artinya), “Dan ingatlah ketika suatu kaum di antara mereka berkata, ‘Mengapa kalian tetap menasihati suatu kaum yang akan Allah binasakan atau Allah akan mengazab mereka dengan siksaan yang amat keras?’ Maka mereka menjawab, ‘Agar ini menjadi alasan bagi kami di hadapan Rabb kalian dan semoga saja mereka mau kembali bertakwa’.” (Qs. Al-A’raaf: 164)

Syaikh As-Sa’di rahimahullah mengatakan, “Inilah maksud paling utama dari pengingkaran terhadap kemungkaran; yaitu agar menjadi alasan untuk menyelamatkan diri (di hadapan Allah), serta demi menegakkan hujjah kepada orang yang diperintah dan dilarang dengan harapan semoga Allah berkenan memberikan petunjuk kepadanya sehingga dengan begitu dia akan mau melaksanakan tuntutan perintah atau larangan itu.” (Taisir Al-Karim Ar-Rahman, hal. 307)

Allah berfirman (yang artinya), “Para rasul yang kami utus sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan itu, agar tidak ada lagi alasan bagi manusia untuk mengelak setelah diutusnya para rasul. Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Qs. An-Nisaa’: 165).

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkhutbah di hadapan para sahabat pada hari raya kurban. Beliau berkata, “Wahai umat manusia, hari apakah ini?” Mereka menjawab, “Hari yang disucikan.” Lalu beliau bertanya, “Negeri apakah ini?” Mereka menjawab, “Negeri yang disucikan.” Lalu beliau bertanya, “Bulan apakah ini?” Mereka menjawab, “Bulan yang disucikan.” Lalu beliau berkata, “Sesungguhnya darah, harta, dan kehormatan kalian adalah disucikan tak boleh dirampas dari kalian, sebagaimana sucinya hari ini, di negeri (yang suci) ini, di bulan (yang suci) ini.” Beliau mengucapkannya berulang-ulang kemudian mengangkat kepalanya seraya mengucapkan, “Ya Allah, bukankah aku sudah menyampaikannya? Ya Allah, bukankah aku telah menyampaikannya?”… (HR. Bukhari dalam Kitab Al-Hajj, bab Al-Khutbah ayyama Mina. Hadits no. 1739)

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah menerangkan, “Sesungguhnya beliau mengucapkan perkataan semacam itu (Ya Allah bukankah aku sudah menyampaikannya) disebabkan kewajiban yang dibebankan kepada beliau adalah sekedar menyampaikan. Maka beliau pun mempersaksikan kepada Allah bahwa dirinya telah menunaikan kewajiban yang Allah bebankan untuk beliau kerjakan.” (Fath Al-Bari, jilid 3 hal. 652).

[9] Dakwah tali pemersatu umat

Setelah menyebutkan kewajiban untuk berdakwah atas umat ini, Allah melarang mereka dari perpecahan, “Dan janganlah kalian seperti orang-orang yang berpecah belah dan berselisih setelah keterangan-keterangan datang kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang berhak menerima siksaan yang sangat besar.” (Qs. Ali-’Imran: 105)

Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah mengatakan, “Kalaulah bukan karena amar ma’ruf dan nahi mungkar niscaya umat manusia (kaum muslimin) akan berpecah belah menjadi bergolong-golongan, tercerai-berai tak karuan dan setiap golongan merasa bangga dengan apa yang mereka miliki…” (Majalis Syahri Ramadhan, hal. 102)

***

Penulis: Abu Mushlih Ari Wahyudi
Artikel abu0mushlih.wordpress.com, dipublikasi ulang oleh muslim.or.id

http://muslim.or.id/manhaj/mengapa-kita-harus-berdakwah.html

Lilo and Stitch


O’hanna is a family. Keluarga artinya tidak ada satu orang-pun yang ditinggalkan (atau dilupakan). Family is no one left behind (or forgotten). Lalu Lilo tidur, dan Stitch membawa majalah bebek itu keluar kamar. Ia-makhluk yang diciptakan untuk membunuh- itu membaca, I’m Lost.

Yah, keluarga adalah wahana untuk merasai kebersamaan. Kebersamaan akan terbentuk dari pekerjaan yang dijalani bersama, saling mengingatkan, menanyakan kabar, memberi hadiah dan masih banyak lagi. Bukan hanya membeli ini dan itu, lalu membawanya pulang, namun lebih dari itu, perjalanan kita menuju dan kembali dari toko harus juga dimanfaatkan. Perhatian kepada semua anggota keluarga perlu diperhatikan, dan perhatian kepada salah seorang anak tidak boleh terlalu berlebihan sehingga menyebabkan perhatian kepada anak yang lain kurang dan merasa tidak diperhatikan. Sekali waktu, tawarkan pada anak-anak, mau liburan ke mana hari ini. Tidak harus mahal, namun yang terpenting adalah memberi kesan. Yach, everyone is special. Setiap orang adalah pribadi yang unik, ada yang suka bermain bersama teman, ada yang suka otak-atik computer sampai malam, pokoknya hobinya beda. Ada yang pemalu, ada yang agak sinis perkataanya, ada yang terlalu sensitive, ada yang senang memperhatikan, dan lainnya. Karena itu, kita harus mengenali berbagai macam karakter tersebut.

Dan untuk memberi mengenalinya, butuh waktu lebih. Aku teringat dengan wawancara di Kick Andy ketika istri Jusuf Kalla ditanya tentang apa hal yang tidak disukainya dari JK. Ia mengatakan, “kalau ditanya, Bapak sering tidak mau jawab”. Lalu Andy bertanya pada JK, mengapa ia tidak mau menjawab pertanyaan istrinya.Kurang lebih begini jawaban JK, “lha yang ditanya istri saya, yang ditulis di koran tentang pekerjaan saya, masa saya jawab lagi, nanti pekerjaan kantor jadi pikiran saya juga di rumah”. Nha, bukan kampanye ini ya, hanya dari jawaban pak JK ini, artinya beliau benar2 telah menyisihkan waktu buat keluarga. Demikian juga pak SBY. Artinya, tidak semua yang kita senangi lalu kita lakukan sendiri, butuh berbagi di dalamnya. Kita hobi mancing, lalu anak yang sebenarnya bisa diajak mancing tidak diajak. Kita hobi tanaman hias, lalu kita asik dengan hobi dan pekerjaan rutinitas kita sendiri. Tidak, anak-anak butuh perhatian lebih. Mengapa? Karena tadi, masa anak adalah masa belajar. Hingga kadang, seorang anak kecil menangis karena dimarahi ibu dan ayahnya. Pernah kubaca, seorang anak hanya karena bermain bersama ayam-ayamnya. Ia merasa senang bersama ayamnya karena ia bisa bercerita apa saja padanya tanpa ada yang mengganggunya. Tapi, ia dimarahi oleh ibunya. Ibunya adalah wanita karir yang sukses, namun mungkin tidak meluangkan banyak waktu untuk adik kecil ini. Dan entah kenapa, dalam waktu singkat, ayam-ayam itu mati satu-demi-satu. Aku tidak tahu sebabnya. Juga, seperti di film Home Alone, sebuah keluarga yang berpiknik bersama dan ada seorang anggota yang tertinggal. Sampai-sampai, ia membaca I’m Lost.

Marah, cemburu, dan tersinggung hanya karena, jalan pikiran mereka yang tak sama. Sampai suatu saat Rasullulloh bersabda: La taghdzab sampai tiga kali. Buat apa seorang ayah yang sholeh, tanpa meninggalkan anak yang juga sholeh. Buat apa seorang ibu direktur perusahaan, tapi anaknya tak bisa mengaji Al-Qr’an. Padahal, doa anak yang sholeh adalah salah satu amal jariyah. Amal, yang pahalanya akan tetap mengalir, meski maut menjemput.

**teruntuk keenam sahabatku yang akan menikah bulan depan, Ainal & Mbak Ratna, Aji & Mbak Wulan, Doni, dan Mbak Fatima Az-Zahra, dan juga Indra Akhria, barokallohu lahum wa baroka ‘alaihum wa jama’a bainakahum fil khoir. Ingin sekali rasanya hadir di walimah antum semuanya.

Mengapa Tauhid?


Karena tauhid, adalah perkara yang pertama dan utama. Seseorang tidak akan beragama dengan benar tanpa mengenal siapa Tuhannya, dan bagaimana sifat-sifat-Nya. Dengan mengenal siapa Tuhannya, maka akan kuatlah akidahnya, akan ikhlaslah hatinya menerima setiap perintah dari-Nya serta menjaganya dari menyekutukan peribadatan kepada selain-Nya.

Belajar tauhid, tidak hanya belajar tentang akidah, tapi melingkupi seluruh aspek ajaran agama. Ada tazkiyatun nafs di sana, bagaimana kita memasrahkan diri kita secara total pada Alloh, bersikap sabar, syukur, tawakkal dan sebagainya. Ada akhlak, karena akhlak yang paling tinggi adalah bagaimana akhlak kita pada Pencipta kita, lalu akhlak pada orang tua, dan seterusnya. Ada fiqh, karena ibadah yang benar, harus sesuai dengan petunjuk Alloh dan rasul-Nya.

Belajar tauhid, perlu diulang- ulang. Hal ini dimaksudkan untuk menjaga seseorang dari kemungkinan ia berbuat syirik, sedangkan dosa yang tidak akan diampuni oleh Alloh adalah dosa syirik. Dan karena iman itu, bertambah dan berkurang. Juga agar kita bisa ikhlas, memurnikan niat ibadah kita hanya untuk Alloh semata.

Karena itu, yuk kita ikut kajian kitab tauhid, semoga diri kita selamat dari api neraka. Kalau bukan kita sendiri yang menolong diri kita di akherat kelak, siapa lagi??

Menulis


Tidak semua yang kulakukan patut ditulis. Tidak semua yang kulihat dan kurasakan pantas dicatat. Perlu waktu yang cukup lama untuk menyembuhkan luka,, menyadari betapa pentingnya keserasian antara kata dan perbuatan. Ketika di seberang sana ada tulisan,, “macam mana kita nak tahu orang tu macam apa yang dia tulis?”. Ketika di sebuah buletinnya *h**a menulis, “ketika dia sering tp tp lewat fasihnya kata, luasnya ilmu, lewat indahnya untaian nasehat, lewat merdunya suara dll. Motivasi jadi melenceng. Yang ikhwan klo ga tampang sholehnya yang dipajang, pake sorban gambar mujahid Palestine, profilnya juga mulai dari puisi tentang da’wah, aktifitas da’wahnya yang segambreng sampai pada kata-kata mutiara pembangkit ghiroh. Sang akhwat juga nggak jauh beda, foto bergambar kartun yang lucu, profilnya udah kaya biodata untuk ta’aruf. “

Selanjutnya beliau menulis, “tulisan ini dibuat bukan untuk menghentikan dari saling menasehati dalam kebaikan, namun untuk meluruskan niat kita dan menengok ke belakang kenapa nasehat kita untuk yang lain jenis? padahal masih banyak saudara saudara kita yang memerlukan nasehat kita.”

Miris aku dibuatnya…

Kembali kususuri jalanku,, dan kutemukan ada peluang tak baik masuk ke dalamnya.. dan perlu kala untuk memperbaikinya. Bahwa manusia terbaik, bukanlah manusia yang bebas lepas dari kesalahan,, namun manusia yang sadar kalau dirinya salah,, lalu kembali kepada jalan Alloh Ta’ala. Bahwa diantara karakter yang berbeda diantara manusia; diantara prioritas kebutuhan dan keinginan pribadinya, tersimpan rahasia-Nya yang mungkin belum aku sadari sampai saat ini.

Kapankah aku bisa kembali ke jalan-Nya?

Diklat ep. Satu


Mulai tanggal 19 Januari kemarin, para CPNS BPK tahun 2009 mengikuti Diklat Pra Jabatan sebagai salah satu syarat pengangkatan menjadi PNS. Diklat ini diikuti oleh 219 orang yang terdiri dari D III STAN sebanyak 126 (125+1)orang , D I STAN sebanyak 26 orang dan pegawai eks honorer sebanyak 43 orang. Pelaksanaan diklat dibagi menjadi dua tempat, yaitu bagi D III Akuntansi STAN, D I STAN dan eks honorer di Pusat Pendidikan dan Pelatihan BPK di Jalan Binawarga II, Kalibata dan bagi D III Anggaran dan Perpajakan di Balai Diklat Makassar.

Para peserta diwajibkan potong rambut satu centi (cepak), memakai dasi dan lencana korpri. Sedangkan saat olahraga peserta diwajibkan memakai kaos berkerah dan celana training.

_____

Wisma di Pusdiklat Kalibata terdiri atas enam lantai, dengan tipe kamar yang berbeda-beda. Untuk peserta diklat, satu kamar terdiri dari empat tempat tidur (tingkat) dan satu bathroom tiap kamar. Fasilitas per kamar cukup lengkap, antara lain meja sebanyak dua buah, almari pakaian, almati untuk buku dan AC. Kerapihan dan kebersihan kamar adalah satu syarat agar tidak ada hukuman dalam diklat kali ini.

Para peserta yang melakukan diklat di Kalibata diwajibkan hadir sehari sebelumnya untuk mengikuti gladi kotor pembukaan diklat.

Esoknya, opening ceremony dimulai pukul 08.00 sampai dengan 10.30, mundur tiga puluh menit dari jadwal. Akibatnya, materi-materi berikutnya menjadi kacau pengaturannya; terutama menyangkut waktu sholat yang sangat-sangat pendek. Materi pertama adalah Dinamika Kelompok lalu Sistem Penyelenggaraan Pemerintah NKRI, dan setelah maghrib berlanjut dengan ceramah umum oleh Bapak Dwita Pradana.

Why BPK exist?


Alkisah, ada seorang raja Romawi yang punya wilayah jajahan yang sangat luas. Seluruh wilayah jajahannya itu diwajibkan membayar upeti pada raja tersebut. Seluruh daerah menyetor upeti yang cukup besar, kecuali daerahnya Asterix yang menyetor sedikit. Lantas, raja tersebut membentuk suatu tim untuk menyelidiki daerah tersebut. Hasil penyelidikan menyatakan daerah tersebut sebenarnya kaya, namun hanya tidak mau membayar upeti pada raja. Seterusnya…. (nonton film-nya aja deh)

____

Nha, begitulah awal mula kata “audit” muncul. Perlunya kejelasan tentang seberapa jauh pemerintah telah mengelola kinerja dan keuangannya secara efektif dan efisien. Lembaga perwakilan sebagai representasi dari rakyat tentu tak bisa mengelola semua dana yang terkumpul dari rakyat. Oleh karena itu, lemba perwakilan “menitipkan” dana terbut kepada pemerintah. Hal ini seperti dewan direksi menitipkan modal perusahaan kepada komisaris. Tentu saja, pemerintah wajib membuat laporan pertanggung jawaban pengelolaan dana tersebut kepada lembaga perwakilan. Ibarat (lagi) perusahaan meng-hire Kantor Akuntan Publik (KAP), lembaga perwakilan juga meminta kepada BPK untuk memeriksa laporan pertanggung jawaban yang dibuat pemerintah tersebut. Pemeriksaan bertujuan untuk memberikan opini, serta rekomendasi agar pengelolaan dana tersebut lebih transaparan dan akuntabel.

Jadi, itulah mengapa BPK diperlukan. Memang tidak secara langsung melayani rakyat, namun untuk menjadikan dana yang terkumpul dari rakyat digunakan oleh Pemerintah sebagaimana mestinya. Suatu bentuk pelayanan yang tidak secara langsung untuk kepentingan rakyat.

Wallohu a’lam.

* disarikan dari ceramah umum Bapak Dwita Pradana, Plt. Kabiro Humas dan Luar Negeri hari Senin tanggal 19 Januari 2009 di Pusdiklat BPK-RI Kalibata.

Menunggu dalam Ketidakpastian


Lulus dari STAN adalah suatu keberkahan yang tiada terhingga. Lulusan bisa langsung ditempatkan di instansi pemerintah yang sejak awal “memesan” lulusan tersebut.

Begitu juga dengan lulusan STAN tahun ini (2008) terutama jurusan Akuntansi, diperkenankan memilih satu dari tiga instansi pemerintah, yaitu Depkeu, BPK, dan BPKP. Tentu saja, dalam setiap polling yang diadakan oleh Perwakilan Solidaritas Akuntansi (PSAK), pilihan terbesar jatuh pada Depertemen Keuangan, lebih khusus lagi adalah pajak (Direktorat Jenderal Pajak). Namun, dalam dua tahun terakhir ini (lulusan tahun 2007 dan 2008) sudah tidak dapat lagi memilih secara spesifik ke eselon 1 Depkeu.

Prosesi penempatan adalah detik-detik yang selalu ditunggu-tunggu bagi seluruh lulusan STAN. Mereka yang sebelumnya pernah merasakan ketegangan karena waktu UKT yang tidak jelas (diundur dan dimajukan tanpa keterangan resmi dari Sekretariat), setelah wisuda pun harus kembali berdebar dengan pengumuman instansi pilihan. Seperti tahun ini, UKT dilaksanakan pada minggu ketiga bulan September (Romadhon), sedangkan UKT 2 dilaksanakan pada awal minggu kedua Oktober (H+7 lebaran). Tentu saja, kalender akademik ini telah disusun oleh pihak secretariat dengan sangat matang, dengan penuh perhitungan dan pertimbangan dari berbagai pihak. Penyewaan gedung wisuda di Jkarta Convention Center tanggal 14 Oktober tetap terlaksana dengan baik. Wisuda berlangsung khidmat, meski ketika wisuda ditanya mengapa tali toga harus dipindah dari kiri ke kanan, tidak dari kanan ke kiri, mereka menjawab tak tahu (jangan2 ibadah???). dan ketika waktu sholat Dhuhur tiba, sama sekali tak ada persiapan dari panitia wisuda STAN untuk menyiapkan ruang khusus sholat, padahal acara berlangsung melebihi waktu Ashar. Di sini dapat terlihat betapa panitia wisuda STAN 2008 meremehkan urusan yang akan pertama kali ditanya di yaumul qiyamah kelak. Naudzubillah.

Setelah menunggu dalam ketidakpastian, minggu terakhir Oktober keluarlah pengumuman penempatan instansi, sedangkan pengumuman eselon 1 Depkeu baru keluar tanggal 21 November 2008. Porsi terbanyak penempatan lulusan Akuntansi adalah di Departemen Keuangan (426 orang), BPKP (250 orang) dan BPK (75 orang). Peringkat peraih “cum laude” di atas 3,50 sudah dipastikan masuk Departemen Keuangan sebagai pemilik STAN, tak punya pilihan lain.

Kemudian, terbagilah lulusan Akuntansi menjadi 13 instansi, mulai dari 11 eselon 1 Depkeu, BPK dan BPKP. Seluruh instansi punya cerita-cerita tersendiri, baik tentang magang, diklat, atau penempatan jiid 2 (wilayah). Di BPK ada forum bpkstan2008.wordpress.com, sedangkan di BPKP ada forum laskarbpkp2008.blogspot.com .

Bagi lulusan yang mendapat instansi BPK, tanggal 3 November 2008 harus menyelesaikan pemberkasan, dan besoknya sudah mulai penempatan sementara (baca: magang) dan sudah terhitung akan mendapat uang tunjangan kegiatan (baca: uang transport) sebesar 950ribu setiap bulan. Di samping itu, terdapat beberapa proyek di BPK, baik di Biro maupun AKN yang dapat menambah uang saku. Kantor pusat BPK di Pejompongan, masih relative dekat dan mudah dijangkau dengan menggunakan KRL atau KRD. Biasanya yang laki-laki memilih tiket yang lebih murah, namun untuk para akhwat beli tiket yang lebih mahal (5ribu-an). Dan dengan kereta, tak akan terkena macet sehingga waktu tempuh dari Pondokranji-Palmerah manjadi sedikit (kurang lebih 20 menit). Uang transport sudah dibayarkan awal desember untuk magang selama dua bulan ini (Nov-Des 2008). Diklat Pra Jabatan, Diklat ke-BPK-an dan Diklat Auditor Terampil insya Aloh dilaksanakan pada bulan Januari 2009. sementara pengumuman penempatan wilayah juga masih menunggu kabar dari setjen BPK.

Penempatan terbanyak di Depkeu adalah di DJP. Jurusan akuntansi akan bayak ditempatkan sebagai pemeriksa pajak, meski ada pula yang akan ditempatkan di Biro maupun sebagai konsultan pajak (AR). Ada pula sebagian lulusan yang ditempatkan pasti di Jakarta, antara lain BKF, Bapepam, Itjen, Setjen, DJA, DPK, dan DJPU. Sedangakan BPPK, DJP, DJBC, dan DJKN masih berpeluang menikmati jalan-jalan ke seluruh Indonesia. Rabu kemarin (10 Desember 2008) lulusan STAN-BPPK telah diumumkan penempatannya. Sedangkan STAN-DJP mulai magang tanggal 15 Desember 2008. Untuk eselon 1 lain, kebanyakan sudah magang di kantor pusat Jakarta.

Pilihan instansi yang tidak favorit adalah BPKP, dimasuki oleh 250 anak akuntansi. Instansi ini kurang diminati karena berbagai hal, terutama ketidak jelasan tupoksi instansi yang seringkali berbenturan dengan BPK. Sempat beredar pertanyaan sebelum pihan bahwa BPKP sudah keebihan pegawai. Dalam realisasinya, memang hanya 100 orang yang akan diangkat menjadi CPNS untuk tahun 2009, sedangkan formasi 150 orang lainnya masih menunggu dalam ketidakpastian, kapan magang dan diangkat CPNS. Untuk yang layer kedua, 100orang akan diperbantukan dalam inventarisasi asset Pemprov DKI, sedangkan yang 50 orang masih menunggu.

Melihat kasus BPKP ini, juga kasus sebelumnya misalnya Depdagri, perlu diperdalam pemecahannya oleh instansi yang berwenang. Apakah pihak STAN (BPPK) kurang koordinasi dengan pihak “pemesan” sehingga lulusan terlantar? Apakah karena dibiayai oleh Negara maka lulusan tidak berhak diikutkan dalam proses penempatan? Dan sedemikian ‘nelongso’kah nasib lulusan ketika mereka harus menunggu dalam ketidakpastian? Alangkah baiknya jikia semua pihak duduk bersama agar “ketidakpastian“ tidak selalu berulang setiap tahun menyemiluti hari-hari lulusan akademi terbaik ini. Semoga.

Wallahu a’lam.

Magang awal di BEPEKA


Mengenal dunia kerja adalah salah satu tujuan magang sebelum ditempatkan. Dalam magang, seseorang akan mengetahui bagaimana kompleksnya dunia kerja; mengenal tanggung jawab dalam arti sebenarnya, melatih bagaimana bersikap terhadap orang yang lebih tua, lebih pandai, atau yang lebih rendah daripada si pemagang itu sendiri.

Lebih lagi, prosesi magang tersebut berada di sebuah kantor pusat lembaga tinggi negara, Badan Pemeriksa Keuangan atau yang lazim disingkat dengan BPK. Kantornya pak Anwar Nasution di jalan Gatot Subroto no.31. pemagang dari STAN berjumlah 125 orang yang dtempatkan di berbagai biro dan auditorat.

Sebelum magang, pemberkasan CPNS lulusan yang berasal dari STAN penempatan BPK (selanjutnya disebut BPK-STAN) berlangsung dalam satu setenagah hari. Hari Ahad tanggal 2 November 2008, briefing awal, perkenalan serta persiapan pemberkasan yang akan dilaksanakan esok harinya di Kantor Pusat. Seninnya, BPK-STAN disambut oleh Pak Mossi selaku Kabiro SDM. Selama minimal sebulan, BPK-STAN akan menjalani penempatan sementara (magang) di kantor pusat. Selanjutnya, pengisian form DRH, surat pernyataan, dan Riwayat Penempaan yang sangat menegangkan karena akan menentukan wilayah mana yang akan diberikan pada lulusan STAN tersebut. Pada pertengahan hari kedua, lulusan STAN dibagi dan diantar menuju ruang masing-masing untuk magang.

Kantor pusat BPK terdiri dari dua gedung, gedung Arsip dan satu lagi gedung Utama (gedung Umar Wirahadikusumah). Gedug Utama terdiri dari 11 lantai, sedang gedung arsip terdiri dari 8 lantai.

Seratus dua puluh lima orang BPK-STAN dibagi menjadi beberapa bagian. Ada yang mendapat dalam satu ruang belasan orang, misalnya di Biro SDM, ada pula yang satu ruang hanya satu orang. Tupoksi masing-masing berbeda, dan pengalamannya-pun pasti berbeda-beda. Pada AKN (Auditorat Utama Keuangan Negara) I misalnya, terdapat lulusan STAN yang ikut Pemeriksaan Stempat (PS) ke BMG, meski tidak dimasukkan dalam Surat Tugas karena belum diklat. Di AKN II yang membidangi keuangan Negara (Depkeu dan BI); BPK-STAN diperkenankan ikut dalam peer review (peninjauan ulang) Kertas Kerja Pemeriksaan (KKP). AKN IV baru saja mengadakan konsinyering di hotel salama 3 hari. AKN V dilatih untuk Indexing (menyusun) KKP. Sedangakan di AKN VII yang memeriksa BUMN, BPK-STAN diminta untuk lebih memahami kondisi BUMN di Indonesia dengan membuat proyek Gambaran Umum BUMN (GU-BUMN).

Lembur di BPK paling banyak terjadi di Biro SDM, karena tahun ini terdapat proyek penerimaan pegawai S1 dan D3 di BPK. Lembur pertama menginput data pelamar dalam system konputer dan lembur kedua menempel foto pelamar ke KPU (Kartu Peserta Ujian). Uang lembur bisa digunakan sebagai tambahan uang saku.

Tanggal 1 Desember, BPK-STAN menerima uang tunjangan kegiatan (baca: uang saku) sebesar 1,9 juta untuk magang selama dua bulan (Nov-Des). Sedangkan TMT rencananya akan dimulai 1 Januari 2009. “Likuiditas Perusahaan” kembali terselamatkan. Semoga BPK-STAN diberi kelancaran dan kemudahan. Amin.

Resesi Dunia (Oktober 2008)


Pada bulan Oktober kemarin, Pemerintah dan Bank Indonesia (BI) telah mengeluarkan sejumlah jurus penyelamatan ekonomi nasional. Hal ini dilakukan dalam rangka antisipasi terhadap dampak resesi (kelesuan) ekonomi yang terjadi di Amerika Serikat. Akibat dari adanya krisis ini adalah terjadi kemandegan kegiatan ekonomi yang seharusnya berputar.
Bila dilihat faktor penyebab dari adanya resesi ini, akar permasalahannya adalah karena penghalalan praktek riba, yang jelas-jelas diharamkan oleh Islam. Dalam Al-Qur’an surat Al-Baqoroh ayat 275, Alloh SWT telah jelas menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Hanya, dalam istilah ilmu ekonomi, kata riba ini disebut juga dengan bunga.
Resesi ekonomi yang ada di Amerika, terjadi karena banyak faktor yang saling mempengaruhi. Mulai dari masyarakat dan Negara sebagai konsumen hingga perusahaan sebagai produsen. Dan secara otomatis, sector perbankan yang mempertemukan ketiga sector tersebut juga terkena dampaknya.
Dari masyarakat sendiri, daya beli terhadap produk perusahaan yang dijual ke pasar menurun tajam. Ini bisa jadi disebabkan karena banyaknya pengangguran. Namun, yang paling banyak mempengaruhi adalah ketika suatu masyarakat yang sudah bekerja keras dan mendapat uang, tapi ternyata uang tersebut belum cukup untuk membayar cicilan kredit rumah, motor dan barang-barang mereka (terkena bunga). Umumnya, masyarakat di Amerika menggunakan fasilitas kredit dari perusahaan kartu kredit yang ada bunga/riba-nya. Dari sisi ini, orang tidak dapat membayar cicilan tersebut bukan orang yang malas, tapi lebih disebabkan karena jumlah uang yang beredar memang tidak sebanyak yang diperlukan. Kalau uang yang dipegang masyarakat hanya 10 juta, misalnya, tapi ada bunga 1% saja, uang yang diperlukan untuk membayar masih kurang seratus ribu. Jadi, mau tidak mau, cepat atau lambat, resesi seperti sekarang ini akan terus terjadi selama praktek riba tetap berjalan.
Akibat kredit macet, sector perbankan juga mengalami krisis likuiditas. Masyarakat yang menunggak kredit tak bisa lagi membayar tagihannya, sedangkan nasabah yang mempunyai tabungan rame-rame menarik dananya karena takut uangnya tidak dapat dicairkan. Hal ini diantisipasi oleh pemerintah di banyak Negara dengan mengucurkan Bill Out maupun dengan menjamin dana nasabah tersebut oleh pemerintah sendiri. Diharapkan dengan adanya penjaminan ini, akan mengurangi kekhawatiran masyarakat atas uang yang telah disimpannya di bank.
Hal yang paling tampak dari dampak resesi ini adalah nilai tukar rupiah yang makin melemah terhadap dolar dan turunnya indeks harga saham gabungan (IHSG) perusahaan-perusahaan besar sekalipun. Salah satu sebab terdepresiasinya rupiah adalah karena para pelaku pasar memborong dolar untuk membayar bahan baku impor dan membayar hutang luar negeri mereka. Penurunan harga saham dipicu oleh kekhawatiran investor terhadap kondisi perekonomian yang semakin memburuk serta tuntutan penambahan modal perusahaan untuk membayar hutang dan gaji tetap karyawan. Investor menjual sahamnya dengan harga murah, meskipun merugi, untuk menghindari kerugian yang lebih besar.
Resesi dunia seperti sekarang ini, sudah berulang kali terjadi. Dari sekian penyebab di atas, akar penyebabnya adalah akibat manusia yang tidak mengikuti aturan Sang Pencipta Manusia. Sebagai rahmatan lil ‘alamin, Islam mengatur bagaimana mengatur masalah perekonomian Negara dengan adanya pengaharaman bunga. Di samping itu, Islam juga menetapkan mata uang yang sangat stabil yaitu Dinar dan Dirham. Dengan mata uang ini, uang bukan hanya sebagai alat tukar yang dilandasi dengan kepercayaan semu dengan dijamin dengan emas oleh bank sentral, namun uang sebagai barang yang mempunyai nilai intinsik (nilai bahan baku) tersendiri yang dapat diperjualbelikan.
Lebih dari itu, penggantian dari sistem kapitalis-konvensional menjadi sistem ekonomi berbasis syariah Islam mutlak diperlukan. Hal ini memang sulit, tetapi kalau setiap pelaku ekonomi sudah menyiapkan diri mulai sekarang dengan kesungguhan dan tekad yang ikhlas karena Alloh, insya Alloh ekonomi syariah akan segera terwujud. Allohu Akbar!

Buatan Sendiri 4


Sabtu, 20 Romadhon 1429 : 13.13

Huff, setelah mengepak barang menuju kos baru, aku menemukanmu lagi Ry…, ternyata kau bersembunyi di balik tumpukan kertas tingkat satu dulu. Senangnya..

Sekilas kubaca tulisan tentang “pemilihan” itu, aku mantap di sini. Apapun yang terjadi, kucoba untuk tetap bertahan hidup di ibukota meski harus banting tulang mencari sesuap nasi. Dan Alhamdulillah, kini wisuda sudah menanti di depan mata. Waktu begitu cepat berlalu…juga Romadhon yang akan berakhir.

Dan tentang mas Akhen, kau jangan khawatir Ry. Beliau sudah menjadi pengusaha kebab yang sukses di kota. Bahkan sudah membuka cabang baru. Tapi,,,masih belum punya istri… klo aku… mungkin sudah dilupakan olehnya Ry…

Balik ke pengepakan sayap,, eh .. barang, banyak sekali barang yang mengingatkanaku betapa tiga tahun adalah waktu yang panjang, berpeluh ku disini bertahan hidup dan berjuang menjadi manusia yang sukses, dunia akherat. Dan tentu agar bisa tetap “lolos” meski dengan IP yang pas-pasan.

Alhamdulillah, setelah berjumpa dengan kakak kelasnya Nur Hidayah di masjid kampus dulu (sekarang aku tahu namanya,Masjid Baitul Mal, keren kan ^_^), selama tiga tahun ini aku tinggal di kos ini, Madinatuz Zahrah (meski bayar dengan menyicil). Yang tadinya paling rajin wall-climbing dan naik gunung di SMA, kini pakai jilbab syar’I dan rok panjang. Keluargaku menganggap itu sebagai sebuah kemajuan. Mungkin itu juga yang membuat kaget teman-temanku SMA seangkatan (2005) saat buka bersama di Kedai Kopi dekat pasar Kabangan beberapa hari yang lalu. Tapi tak apa Ry, semua butuh proses.

Dua barang yang paling sering kubawa, adenda kampus. Dari dinamika tahun 2005 dan 2006. Mereka berdua yang menyimpan kisah tentang banyak aktivitasku di kampus, dari masa awal mencari wadah pengembangan diri, belajar, dan mengakhirinya dengan khusnul khotimah, semoga begitu. Masih teringat pesan pak Direktur STAN, Suyono Salamun, bahwa tugas kalian di kampus adalah 3B, Belajar, Belajar dan Belajar. Mereka berdua menjadi catatan harianku, pas lagi ga ada kamu Ry, ketika aku harus berjualan makanan ringan, mencoba membuka bimbel yang akhirnya gagal, merekap jam pertemuan dengan murid-murid privat, dan yang sampe sekarang kulakukan, jualan pulsa elektrik di kos-an. Mereka berdua yang menemaniku dalam perjalanan pulang, membuatku tak lupa akan barang yang harus kubawa dan kuhadiahkan untuk keluargaku tercinta. Berjualan TTS atau sapu tangan di separuh perjalanan demi mendapat tiket yang sedikit lebih murah. Juga, tulisan dari kajian keislaman yang sangat berharga, berisi prinsip-prinsip hidup karena Pancasila adalah ideologi yang bukan Islam. Mereka berdua….ntar kamu jadi iri Ry…ya tambah satu lagi yang lain adalah agenda Undip karena sebelum masuk STAN masuk Teknik Kimia UNDIP.

Ku sangat ingin berterimakasih pada setiap orang yang telah memberikanku barang-barang yang sangat berguna bagiku. Untuk saudaraku di Jember yang memberiku mug kecil kotak-kotak warna-warni, toples transparan… Untuk seluruh IPA 1 yang membuat jaket “Science One” yang masih sering aku pake… Beberapa baju dan jaket pemberian panitia pengadaan acara kampus yang masih aku simpan…Mug kelas 3B akuntansi yang menemaniku minum… dan masih ada beberapa barang pemberian lain yang masih aku simpan sebagai kenangan. Terima kasih…

Dan sebagai mahasiswa yang sudah tiga tahun di kampus, barang yang paling memenuhi kamarku adalah kertas fotokopian dan buku diktat kuliah. Meski kadang harus berutang, aku tak mau ketinggalan pelajaran. Toh klo ada uang, aku akan bayar. Nah, pulang ini aku dapat tambahan uang saku 21ribu hasil kiloin kertas2 itu,,,alhamdulillah.

Buku dan majalah Islam, sebagian kubawa pulang, sebagian kusumbangkan. Ga terlalu banyak, tapi macem-macem, dari Ar-Risalah, Elfata, Al-Furqon, Tarbawi, al-wai’e, Risalah Mujahidin, Nikah, sampe majalah Angkasa dan Commando, PC Media dan yang lainnya. “penyisihan” dari rizqi Alloh yang sangat luas. Masa si cuma Kieso terus, apa kata Dunia???

Selasa, 23 Romadhon 1429 : 20.20

Ry, penceramah tadi menyatakan bahwa kini musuh Islam tambah berani dalam memusuhi Islam. Lewat apa saja, mungkin kita tak sadar klo meski agama kita Islam, tapi pemikiran dan tingkah laku kita tidak mencerminkan apa itu Islam. RituaLitas Tanpa Makna. Pemurtadan lewat media massa dan poleksosbudhankan.

Ry, penceramah tadi mengingatkan akan pentingnya persatuan ummat. Tidak mengharamkan dan membid’ahkan adanya golongan-golongan, dengan syarat tidak berbangga diri dengan golongan dan kelompoknya itu. Sulit, tapi bisa insya Alloh.

Di kampus Ry, aku jarang keluar malam. Maklum, masa si perempuan sering keluar malam tanpa udzur syar’i? namun, dalam beberapa hal, aku menyempatkan untuk masih ikut kajian. Di sini biasanya kajiannya malam Ry, dan ikut dengerin kajian ga harus sepakat dengan penceramahnya kan? Nha itu dia, masa si ada suatu kelompok yang ngeluarin list ustadz yang ga boleh didengerin ceramahnya…dzolim banget khan? Balik ke kajian tadi, di kampus memang banyak banget versi kajiannya. Pembuktian apa yang dikatakan oleh kakak-kakak kelasku sebelum wisuda SMA dulu. Alhamdulillah aku bersekolah di “luar negeri” jadi masih punya sedikit wawasan tentang Islam. O ya, bukan karena Luqman ya aku ikut kajian, dah nyadar klo yang kaya gituan bikin hidup sia-sia aja…

Ry, penceramah tadi juga menyebutkan sebuah hadist, yang mana ketika itu Rasullulloh naik mimbar dan mengucapkan amin 3 kali. Salah satu dari “amin” itu adalah Rasul mengamini doa malaikat yang menyatakan celakalah bagi orang yang bertemu Romadhon tapi tidak mendapat ampunan dari Alloh. Astaghfirulloh…